Materi Keaktoran 2

MENAFSIR KEAKTORAN

Oleh : M. Fadholi

Istilah karakter/ watak dipakai dalam penokohan para pelaku cerita dalam naskah lakon. Antara istilah tokoh dan karakter keduanya sangat lekat, maka sering digabungkan penyebutannya sebagai tokoh karakter. Tokoh adalah sosok individu rekaan yang mengalami peristiwa-peristiwa tertentu dan berfungsi sebagai penggerak cerita. Sedangkan penokohan/ karakterisasi adalah metode pelukisan watak para tokoh dalam naskah untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh-tokoh lainnya. Karakterisasi berfungsi untuk menghadirkan alasan bagi tokoh untuk sebuah tindakan-tindakan tertentu dalam membentuk cerita.

Lagos Egri, berpendapat bahwa perwatakan adalah yang utama dalam sebuah lakon. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita, tidak akan ada plot. Perbedaan watak akan melahirkan pergeseran, tabrakan kepentingan, konflik, yang akhirnya melahirkan cerita.

Tinjauan Ilmu Psikologi

Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi tumpang tindih penggunaan istilah kepribadian, karakter/watak, tempramen, tabiat dan sifat. Para ahli ilmu psikologi memberikan definisi yang berbeda-beda, namun sebagian besar dapat ditarik benang merahnya.

Karakter/ watak adalah sifat-sifat dalam diri seseorang yang menjadikannya unik dan membedakannya dengan orang lain berdasarkan apa yang ia miliki sejak lahir (genetik) maupun yang ia pelajari atau peroleh lewat pengalaman hidupnya.

Kepribadian adalah sifat-sifat dalam diri seseorang yang mengarahkannya untuk berfikir, berperasaan, bertingkah laku yang khas dalam berhubungan dengan lingkungannya.

Perbedaan antara karakter dan kepribadian dikemukakan oleh Allport (1937), bahwa apabila orang mengenakan norma-norma (nilai-nilai akhlak) yang berarti mengadakan penilaian terhadap seseorang lebih tepat dipakai istilah karakter/ watak. Apabila tidak mengadakan penilaian sehingga menggambarkan apa adanya dipakai istilah kepribadian.

Sedangkan Lickerman, berpendapat bahwa kepribadian lebih bersifat menetap dan dipengaruhi faktor keturunan, sedangkan karakter lebih terbentuk karena pembelajaran terhadap nilai-nilai dan kepercayaan. Dari sisi lain Allport yang memberikan gambaran bahwa kepribadian adalah bagaimana individu menampilkan diri dan menimbulkan kesan bagi indvidu lain secara khas.

Sebagai contoh untuk menggambarkan perbedaan antara kepribadian dan karakter, misalkan ada orang yang selalu menawari rokok setiap kali bertemu dengan temannya maka ini lebih tepat disebut kepribadian, sedangkan jika ada orang yang menghentikan kendaraannya untuk menolong korban kecelakaan, ini disebut karakter.

Tempramen adalah sifat yang sudah ada pada diri seseorang tanpa dikehendaki atau diupayakan (M. Furqon Hidayatullah). Tempramen = tabiat = pembawaan. Tabiat berhubungan dengan kondisi jasmani yang sifatnya genetik dan sulit untuk diubah, tidak dapat dipengaruhi faktor dari luar bahkan oleh kemauan hati orang tersebut. Tabiat/ tempramen adalah tingkah laku yang sifatnya berulang. Contoh kalimat yang menggambarkan tabiat/ tempramen.“Dia selalu marah-marah jika ada bawahan yang tidak beres dalam bekerja”

Sifat adalah satu karakteristik spesifik dalam diri seseorang dan ketika dikombinasikan antara satu dengan yang lain membuat seseorang menjadi pribadi yang unik dan membentuk identitas orang tersebut. Sifat bisa dikatakan sebagai satu perasaan yang secara kodrati ada pada diri seseorang secara khas. Misalnya orang yang gampang menangis ketika apa yang direncanakannya tidak berjalan mulus.

Memahami Karakter Tokoh

IMG_9638

Doc. Teater Gadhang (Pentas Panas 2015)

 

Selain mengacu pada teori-teori kejiwaan dalam ilmu psikologi, penerapan karakter dalam naskah lakon juga memadukan unsur-unsur lain pembentuk karakter tokoh yang bersifat pencitraan atau pembentukan image tokoh.

Ketika menulis naskah, pengarang sudah menyiratkan gambaran karakter tokoh lewat penuturan dialognya. Tuturan dialog-dialog tersebut, baik tersurat maupun tersirat telah memuat unsur-unsur pembentuk karakter tokoh seperti sifat, sikap, perasaan, perilaku/ tindakan, suasana kejiawaan/ emosi, dan identitas-identitas lain yang memperkuat image tokoh. Pemeran dituntut kepekaan rasanya untuk menggali dan menganalisisnya lewat upaya menafsirkan dialog, kemudian mengidentifikasikannya ke dalam ciri-ciri identitas khusus yang meliputi.

  1. Status sosial : latar belakang sosial, tingkat sosial terhadap tokoh lain, dsb.
  2. Fisik : umur, jenis kelamin, postur tubuh, dsb
  3. Psikis : trauma, depresi, dsb
  4. Intelektual : cara berfikir dan mengambil keputusan
  5. Religi : agama atau kepercayaan

Proses ini dinamakan analisa tafsir karakter, ciri-ciri identitas khusus yang telah teridentifikasi selanjutnya dilebur menjadi kesatuan karakter yang utuh melalui rangkaian upaya penjiwaan atau olah rasa. Pemeran dituntut bisa fokus agar tidak terperangkap menggunkan karakter individunya dalam menganalisa tafsir karakter.

“untuk menjadi pemeran yang baik, aktor harus menganalisa peristiwa dan kejadian. Ketika di panggung aktor harus melepas atau meninggalkan identitas dirinya untuk memasuki identitas tokoh yang diperankannya” (Stanislavsky)

Ada beberapa cara memahami karakter tokoh, diantaranya yaitu lewat :

  1. Tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya
  2. Gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya maupun cara berpakaian
  3. Menunjukan bagaimana perilakunya
  4. Melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri
  5. Memahami jalan pikirannya
  6. Memahami bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya
  7. Melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya
  8. Melihat bagaimana tokoh-tokoh lain itu memberi reaksi terhadapnya
  9. Melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh lain (Aminuddin, 1982)

Aktor kadang-kadang dihadapkan pada sebuah naskah lakon yang terdapat tokoh dengan karakter ganda. Seperti pada naskah pesta para pencuri. Dalam naskah tersebut pemeran harus berganti-ganti karakter tokoh ketika melakukan penyamaran. Semacam akting dalam akting. Dalam kasus ini dibutuhkan dua analisa tafsir karakter tersendiri dan di panggung aktor harus membawakan dua karakter tokoh secara konsisten dan meyakinkan.

Dalam naskah Raja Lear (Lear King) karya Williem Shakespiere, Tokoh Raja Lear mengalami perubahan karakter pada bagian akhir naskah. Dibutuhkan penjiwaan ekstra untuk memerankan karakter-karakter tokoh seperti ini.

Menurut kedudukannya, karakter dibedakan menjadi 3, yakitu :

  1. Karakter utama : mempunyai porsi terbanyak dalam aksi cerita
  2. Karakter pendukung : yang menciptakan situasi dan memicu konflik bagi karakter utama
  3. Figuran : untuk mengisi atau melengkapi sebuah cerita, kadang tanpa dialog

Untuk karakter pendukung yang jumlahnya banyak tetapi dialognya sedikit, tidak memungkinkan bagi peggambaran karakter secara detail. Terlebih pada pemain figuran yang kolosal dan tanpa dialog. Maka penggambaran karakter berdasarkan pandangan-pandangan umum tentang karakter tokoh tersebut atau bisa juga menggunakan karakter tipikal. Misalnya pengemis adalah tokoh identik dengan mengiba dan pakaian lusuh. Orang tua renta identik dengan jalan tertatih-tatih dengan menggunakan tongkat, dsb.

Jika karakter tokoh dihadirkan untuk memancing konflik, pemeran harus mempunyai kesadaran penuh dalam mengukur seberapa performa karakter harus dikuasai dan ditampilkan di panggung. Jika karakter performa gagal dibawakan atau ditampilkan dengan tepat, maka konflik tidak akan tercipta. Permainan pemeran gagal dalam membawa misi cerita lakon dan pertunjukan akan jadi terasa hambar.

Penonton akan selalu terpikat dalam menanti kemunculan pemeran yang mampu menjaga konsistensi karakternya. Pemeran yang karakternya berubah-rubah timbul dan tenggelam tidak akan menarik untuk ditonton. Kehadirannya terasa seperti orang asing yang tidak mewakili karakter tokoh manapun. Padahal logika dan kekuatan cerita dibangun dengan kekuatan karakter. Jika seluruh pemeran karakternya berubah-rubah maka yang tampak di panggung bukan lagi permainan akting, tapi sekumpulan pemeran yang bermain-main dengan akting. Tidak ada keterlibatan emosi penonton karena tidak ada ruh pertunjukan yang hadir. Dan ini bisa membuat penonton bingung dan mulas.

Sebagai ilustrasi mari kita simak cuplikan dialog dalam naskah pinangan karya Anton P. Chekhov yang telah diadaptasi secara kultural.

FRAGMEN 1

BAGUS

Aku juga tidak tergila-gila pada tanah itu Roro Ayu. Tapi ini adalah prinsip! Kalau kau mau akan kuberikan tanah itu kepadamu sebagai hadiah

RORO AYU

Eee. . . Aku yang bisa memberikan rawa becek itu kepadamu sebagai hadiah karena itu milikku. Enak saja ngomong! Tahun lalu kami meminjamkan mesin giling padi kepadamu. Dan karena itu kami tidak bisa melakukan penggilingan padi sampai bulan November. Dan sekarang kamu berani menganggap kami orang melarat, menghadiahi aku dengan tanahku sendiri. Ini dengan pasti kuanggap sebagai suatu hinaan!

BAGUS

Kalau begitu menurutmu saya adalah lintah darat? Saya belum pernah merampas tanah milik orang lain nona manis, dan saya tidak bisa membiarkan siapapun juga menuduh saya dengan demikian …..

(MEMINUM) Tanah itu adalah milikku!

RORO AYU

Milik kami!

BAGUS

Milikku!

RORO AYU

Bohong! Akan kubuktikan! Hari ini akan kusuruh buruh-buruhku memasang pagar kawat berduri di atas rawa tersebut!

BAGUS

Akan kulemparkan mereka keluar!

RORO AYU

Eeee …. Awas kalau berani!

BAGUS

(MEMEGANG DADANYA) Aduh hatiku ….

Tanah itu adalah miliku….! Mengerti?! Milikku…!!

RORO AYU

Jangan menjerit-jerit! Kau boleh berteriak-teriak sampai kehilangan nafas karena marah di rumahku, bila kau mau. Tapi disini kuminta supaya kau tahu adat.

BAGUS

Kalau saya tidak menderita sesak napas Roro Ayu. Kalau kepala saya tidak berdenyut-denyut, aku tidak akan bicara seperti ini.

(BERTERIAK) Tanah itu adalah…. adalah milikku!!!

RORO AYU

Milik kami!

BAGUS

Milikku!

RORO AYU

Kami…!!!

Mari kita coba kupas tafsir dialog fragmen di atas. Asumsinya hanya ada dialog-dialog tersebut dalam satu naskah.

Analisa tafsir dialog :

Bagus dan Roro Ayu terlibat pertengkaran soal sengketa tanah

Bagus dan Roro Ayu saling klaim bahwa tanah tersebut adalah miliknya

Bagus merasa terhina dengan tuduhan Roro Ayu

Roro Ayu merasa terhina dengan tuduhan Bagus

Bagus dan Roro Ayu saling menggertak/ mengancam karena marah

Bagus menderita sakit sesak nafas dan kepala berdenyut-denyut

Bagus dan Roro Ayu saling membenci

Tafsir Karakter :

Bagu : Keras kepala, kokoh memegang prinsip

Roro Ayu : Keras kepala, kokoh pertahankan hak

Selanjutnya mari kita simak lanjutan cuplikan dialog berikutnya.

FRAGMEN 2

COKRO

Penjahat, orang konyol! Dan si tolol itu … Si Bagus jelek itu … Berani melamar dan seterusnya … Pikirlah … Melamar!

RORO AYU

Melamar Apa?

COKRO

Dia datang ke sini dengan tujuan melamar kamu, Itulah!

RORO AYU

Melamar…. saya? Mengapa ayah tidak katakan dari tadi?

COKRO

Ya, Melamar. Dan untuk itulah dia datang berpakaian demikian bagus.

RORO AYU

Melamar… saya? Melamar? … Aaahh … (JATUH) Oh… Demikianlah hidupku… Bawa dia kembali … Bawa dia kembali ….. Oh, bawa dia kembali lagi…..

COKRO

Bawa dia kembali? Siapa?

RORO AYU

Lekas Ayah, Aku mau pingsan…. bawa dia kembali …!

COKRO

Mengapa? Ada apa? (MEMEGANG KEPALA) Oh… demikianlah hidupku….! Akan kugantung diriku…! Hidupku akan berakhir karena kau …. Aduh, kenapa dulu istriku dulu melahirkan anak perempuan?!

RORO AYU

Aku mau mati! bawa dia kembali! bawa dia kembali …!

 

Mari kita simak kembali dialog-dialog pada fragmen 1, beberapa kode/ petunjuk telah dihadirkan pengarang meski terasa samar dan terkesan tidak begitu penting. Kode/ petunjuk itu terdapat pada dialog-dialog Bagus, antara lain :

  • Bagus : …… dan saya tidak bisa membiarkan siapapun juga menuduh saya dengan yang dmikian …. (Meminum) ……
  • Bagus : (Memegang dadanya) Aduh hatiku …..
  • Bagus : Kalau saya tidak menderita sesak nafas …. Kalau kepala saya tidak berdenyut-denyut ….

Kalimat-kalimat Bagus dan keterangan yang ada dalam narasi tersebut adalah kode/ petunjuk dari pengarang yang akhirnya terkuak pada fragmen 2 pada dialog.

  • Cokro : Dia datang kesini dengan tujuan melamar kamu, Itulah!

Lantas apa kaitan antara kode/ petunjuk tersebut dalam pemeranan karakter tokoh Bagus? Jika pemeran tidak menganggapnya sebagai kode/ petunjuk, alias hanya sekedar sebuah gaya penuturan dialog oleh si pengarang saja, maka yang terjadi adalah pemeran akan menampilkan akting di panggung sebagaimana sesuai tafsir dialog fragmen 1, yaitu terhina, marah, menggertak, sakit dan “benci”, padahal :

  • ketika kalimat Bagus terhenti lalu minum, adalah upaya Bagus untuk menekan dan menindas perasaan cintanya kepada Roro Ayu manakala kalimat Roro Ayu terasa menghinanya. Dengan minum itu, Bagus berusaha untuk mengembalikan kekokohan hatinya dalam memegang prinsip dan agar sanggup berkata lebih tegas dan lantang kembali : “Tanah itu Milikku…!”
  • Ketika bagus memegang dadanya saat mengcuapkan “Aduh hatiku”, Bagus sedang mengalami konflik batin saat Roro Ayu yang dicintainya itu berkata keras “Awas kalau berani!”. Dengan memegang dadanya, Bagus kembali berusaha menindas rasa cintanya yang lagi-lagi muncul agar bisa kembali berkata dengan lantang “Tanah itu adalah milikku! Mengerti?! Milikku!”
  • Bagus sedang tidak menderita sakit sesak nafas meski dia mengatakan begitu dalam dialognya. Sesak nafas itu hanyalah ungkapan untuk menggambarkan betapa gejolak konflik batinnya demikian berat untuk dia redam, ini adalah soal derita batin, bukan sesak nafas. Begitu pula tentang kepala bagus yang terasa berdenyut-denyut adalah ungkapan untuk menggambarkan betapa bingungnya dia menghadapi situasi seperti ini. Betapa tidak, tujuan utama Bagus datang ke rumah Roro Ayu adalah untuk melamar. Bagus datang dengan membawa segudang cinta untuk Roro Ayu, tapi ternyata rasa cintanya itu seperti terperangkap dalam pusaran arus pertikaian, persengketaan yang menghempas-hempas tak karuan.

Dengan analisis seperti tersebut diatas. Ketika fragmen 1 dan fragmen 2 digabungkan, maka tafsir dialognya ada yang berubah. Bagus dan Roro Ayu saling mencintai (bukan saling membenci), juga Bagus tidak sedang menderita sakit sesak nafas dan kepala berdenyut-denyut. Karena lelaki yang sedang sakit tidak akan datang melamar perempuan. Maka baik pemeran tokoh Bagus dan Roro Ayu ketika menampilkan perannya di atas panggung harus menampilkan dua perasaan/ emosi yang saling bertentangan pada saat yang bersamaan. Karakter-karakter tokoh seperti ini juga terdapat pada naskah Anton P. Cekhov yang lain yang berjudul Orang Kasar/ Beruang Penagih Huatng.

Catatan yang bisa kita ambil adalah dibutuhkan kecerdasan dan kepekaan rasa ketika memahami dialog-dialog tokoh agar mampu menafsir dialog dan manafsir karakter dengan tepat, sebagaimana kecerdasan pengarang dalam menyelipkan kode atau petunjuknya lewat penuturan dialog dalam naskah yang ditulisnya.

Iklan